Flamboyan kalau saya tidak salah adalah nama sebuah bunga. Kaum adam yang suka bergaya rapi dan necis bisa identik dengan nama bunga ini, laki-laki flamboyan. Tapi dalam tulisan ini saya ingin menggambarkan flamboyan itu dengan laki-laki yang suka tebar pesona (TP). Yes, aku suka topik hari ini.
Kalau harus jujur menjawab kenapa saya menulis tentang ini, terus terang saya sedang dilanda rindu kepada sahabat-sahabat saya yang telah tersebar di seantero nusantara dan ada beberapa yang di belahan dunia lain.
Karena dengan menjawab pertanyaan seberapa flamboyan kah dirimu? Saya pasti akan meletakkan namaku pada urutan ke duapuluh atau tigapuluh dari daftar laki-laki plamboyan yang saya kenal. Maka izinkan saya untuk menyebut beberapa diantara sahabat-sahabat saya yang flamboyan. Don't get me wrong. Karena hadirnya nama-nama berikut akan membantu saya untuk menjawab seberapa flamboyankah diriku ini. Saya juga akan berusaha memberikan penjelasan objektif yang sesingkat-singkat mungkin terkait status peringkat mereka.
Dan terakhir sebelum saya memuat urutan tersebut, kepada para wanita yang pacar mereka tercantum dibawah ini jangan pernah menjadikan tulisan saya ini sebagai justifikasi kalian memutuskan atau bahkan menambah cinta yang dalam kepada para lelaki tersebut.
Pada urutan pertama, tercantum nama yang saya fikir kita sepakat akan keberadaanya.
M.Insan Cita Pratama (benar ga yahh) a.k.a Sani. Untuk hal sepakbola saya punya daftar nama Pele dari Brazil, Messi dan Maradona dari Argentina. Untuk filosof, ada Plato, Ibnu Kholdun, Habermas dll. Tapi untuk masalah wanita, saya hanya punya satu nama, SANI. Kekuatan auranya telah menginspirasi BCL untuk membuat lagu sunny (bacanya sani). Saya mengakui ini dalam rangka memberikan kesan lebay dalam tulisan ini tapi saya juga ingin menggarisbawahi bahwa aura Sani melewati batas profesi, agama dan geografi. Kesannya sebagai laki-laki flamboyan tidak bisa terelakkan oleh wanita-wanita seantero Indonesia. Jogjakarta, Kalimantan, Jakarta bahkan Padang (ini hanya representasi dari Pulau Sumatera) telah mengakuinya sebagai sosok yang tak perlu diragukan reputasinya. Saya pun sebagai sahabatnya mengakui dia sebagai king of the king. Kelihaiannya dalam dunia wanita bisa disejajarkan dengan Gunawan Moehammad (GM) dalam dunia tulis menulis. Satu kata, SUBHANALLAH.
Dahsyatnya nama Sani tidak cukup hanya dengan menjadikan dia di nomor urut satu, melainkan memberikan dia kehormatan untuk menduduki urutan kedua sampe kelima. Setelah itu aku baru merasa puas membicarakan kehebatan beliau ini. (aku mau ketawa waktu nulis ini,,sumpah).
Pada urutan ke enam, ada nama Habibie Kurniawan. Saya sempat memprediksikan bahwa sosok satu ini akan mampu menjegal dominasi dan hegemoni Sani dalam dunia wanita. Tapi sayang dalam beberapa kesempatan, lagi-lagi Sani menunjukan kelihaian dan performanya yang sangat super. (Kok sani lagi pembahasannya).
Singkatnya, pada urutan ke tujuh dan seterusnya ada nama-nama berikut: Aditya Rakhman, Indra Pratama, Mas Nanang, Herry, Aldy, Fikri Pido (saya sendiri), Miftahul Ulum dan pada urutan terakhir Rangga Dian Fadhilah.
Ada boleh berbeda pada urutan enam dan seterusya, tapi tidak untuk satu sampai lima.
Selamat!!!
Jumat, 26 Maret 2010
Cerita Presentasi Hukum Humaniter
Hari kamis kemarin,saya kebagian untuk presentasi materi kuliah hukum humaniter internasional. Secara jujur, pelajaran ini bukan favorit saya. Tapi saya harus menghargai dosen yang mengajar (disini saya sadar kalau nilai PPKN tertanam kuat di dalam jiwa saya).
Selain karena alasan menghargai, dosennya juga gaul (baca: santai dalam mengajar) dan yang terpenting beliau sangat good looking.
Saya tidak akan menceritakan bagaimana Hukum Humaniter Internasional (HHI) didasari satu motivasi yang sangat mulia untuk memanusiakan manusia bahkan dalam situasi perang.. (harri gennneeee!) Tapi yang lebih penting adalah bagaimana saya dan fahrul berusaha untuk mendobrak (pintu kalllleeeek) cara presentasi yang buat kami sangat membosankan (beuhhhhhhhh).
mulailah kami dengan tidak menggunakan power point presentation. Dosen kami mempertanyakan keputusan kami yang sangat kontroversial ini dengan alasan materi kami membuat banyak materi baru. Dan gaya santai, kami menjawabnya: "yang penting kan materinya dapat dipahami oleh teman-teman, ibu lihat saja dulu" Kami memulai dengan gaya sangat santai, seperti obrolan di kantin dan menjadikan presentasinya sangat mengalir.
Singkat cerita, sampailah kami di pembahasan yang menjelaskan bahwa tawanan perang harus diberikan hak untuk bertukar kabar dengan sanak saudara. Disinilah kami melakukan improvisasi, dengan mengatakan bahwa interpretasi pasal sangat tergantung dengan konteks ruang dan waktu. Kalau hari ini Facebook menjadi media orang untuk bertukar kabar, maka para tawanan perang juga harus diberi akses untuk memiliki akun dan waktu untuk mengakses media internet. Maka dengan lebay kami berimajinasi bahwa kalau kebengisan para tawanan perang akan berganti "keimutan" (saya tidak dapat mendapatkan kata yang paling cocok dengan istilah itu) mereka. Kalau Slobodan masih hidup, kita akan melihat satu update di facebook: Slobodan "gerah banget penjaranya, gimana mau bobo?". Para komandan interahamwe di Rwanda juga mungkin akan menulis dengan sinis : "menu penjara ngga bikin nafsu" atau yang lebih ekstrim kalau Hitler masih hidup di penjara, dia akan menulis : "c4pA yG bLg Low gW g CpEk bNuh oRg,,gW kn Jg mNuci4.... t4pE dehhhhhh!!!"
Hayoooo,,kita mau bilang apa kalau udah kayak gitu....
p.s: cerita di tulisan ini sudah mengalami proses "pelebayan" yang sangat jauh dari nilai yang bisa ditolerir, jadi harap maklum.
Selain karena alasan menghargai, dosennya juga gaul (baca: santai dalam mengajar) dan yang terpenting beliau sangat good looking.
Saya tidak akan menceritakan bagaimana Hukum Humaniter Internasional (HHI) didasari satu motivasi yang sangat mulia untuk memanusiakan manusia bahkan dalam situasi perang.. (harri gennneeee!) Tapi yang lebih penting adalah bagaimana saya dan fahrul berusaha untuk mendobrak (pintu kalllleeeek) cara presentasi yang buat kami sangat membosankan (beuhhhhhhhh).
mulailah kami dengan tidak menggunakan power point presentation. Dosen kami mempertanyakan keputusan kami yang sangat kontroversial ini dengan alasan materi kami membuat banyak materi baru. Dan gaya santai, kami menjawabnya: "yang penting kan materinya dapat dipahami oleh teman-teman, ibu lihat saja dulu" Kami memulai dengan gaya sangat santai, seperti obrolan di kantin dan menjadikan presentasinya sangat mengalir.
Singkat cerita, sampailah kami di pembahasan yang menjelaskan bahwa tawanan perang harus diberikan hak untuk bertukar kabar dengan sanak saudara. Disinilah kami melakukan improvisasi, dengan mengatakan bahwa interpretasi pasal sangat tergantung dengan konteks ruang dan waktu. Kalau hari ini Facebook menjadi media orang untuk bertukar kabar, maka para tawanan perang juga harus diberi akses untuk memiliki akun dan waktu untuk mengakses media internet. Maka dengan lebay kami berimajinasi bahwa kalau kebengisan para tawanan perang akan berganti "keimutan" (saya tidak dapat mendapatkan kata yang paling cocok dengan istilah itu) mereka. Kalau Slobodan masih hidup, kita akan melihat satu update di facebook: Slobodan "gerah banget penjaranya, gimana mau bobo?". Para komandan interahamwe di Rwanda juga mungkin akan menulis dengan sinis : "menu penjara ngga bikin nafsu" atau yang lebih ekstrim kalau Hitler masih hidup di penjara, dia akan menulis : "c4pA yG bLg Low gW g CpEk bNuh oRg,,gW kn Jg mNuci4.... t4pE dehhhhhh!!!"
Hayoooo,,kita mau bilang apa kalau udah kayak gitu....
p.s: cerita di tulisan ini sudah mengalami proses "pelebayan" yang sangat jauh dari nilai yang bisa ditolerir, jadi harap maklum.
Senin, 22 Maret 2010
Berdamai dengan pembuat rusuh
Dua minggu kemarin, secara membabi buta kelas ku dihajar oleh seorang dosen tamu dari Upeace Costa Rica. Hasilnya tidak begitu sadis, hanya beberapa orang terkapar lemah tak berdaya di atas ranjang, sakit. Salah satunya adalah dosen pendamping. Aku cukup kuat atas cobaan ini meski aku harus kehilangan banyak waktu untuk melakukan "observasi ilmiahku" setiap hari dikantin.
Diantara banyak hal yang tidak aku sukai dari kelas itu terselip satu hal lucu. Aku baru sadar kalau aku ini berpotensi menjadi pembuat rusuh (baru sadar??? kemana aja, Pak????) Dan orang-orang setipe ini yang dibeberapa kasus menjadi penyebab dan memperpanjang konflik. Yeahhh??/!!
Astaghfirullahaladzim,, sebegitu parahnya diriku. Seketika itu pula aku mengingat perjalanan hidupku yang bisa menjustifikasi penjelasan dikelas itu. Hasilnya nihil. Malah berbalik 180 derajat, teman2 mengatakan kalau aku ini yang menghangatkan forum bernama persahabatan itu. (ahhh mereka bisa ajahhh)
Tapi (ini bagian serius) kelas yang panjang kami itu ditutup dengan satu sesi yang sangat menarik, ketika seluruh peserta kelas berdiri membuat satu lingkaran besar dan secara bergilir menyampaikan pernyataan mereka terkait apa yang mereka dapat dari kelas tersebut.
I would say: "This is not about you as Christian, me as Indonesian and her as heterosexual. This is about us as human".
Thanks Mr. Tony Karbo
Diantara banyak hal yang tidak aku sukai dari kelas itu terselip satu hal lucu. Aku baru sadar kalau aku ini berpotensi menjadi pembuat rusuh (baru sadar??? kemana aja, Pak????) Dan orang-orang setipe ini yang dibeberapa kasus menjadi penyebab dan memperpanjang konflik. Yeahhh??/!!
Astaghfirullahaladzim,, sebegitu parahnya diriku. Seketika itu pula aku mengingat perjalanan hidupku yang bisa menjustifikasi penjelasan dikelas itu. Hasilnya nihil. Malah berbalik 180 derajat, teman2 mengatakan kalau aku ini yang menghangatkan forum bernama persahabatan itu. (ahhh mereka bisa ajahhh)
Tapi (ini bagian serius) kelas yang panjang kami itu ditutup dengan satu sesi yang sangat menarik, ketika seluruh peserta kelas berdiri membuat satu lingkaran besar dan secara bergilir menyampaikan pernyataan mereka terkait apa yang mereka dapat dari kelas tersebut.
I would say: "This is not about you as Christian, me as Indonesian and her as heterosexual. This is about us as human".
Thanks Mr. Tony Karbo
tuhan dan perempuan
Ada banyak hal yang kita tidak mengerti dalam hidup ini. Dengan begitu ada yang sadar bahwa sebagai manusia kita memiliki keterbatasan yang oleh karenanya mereka mempercayai adanya tuhan. Aku salah satu dari kelompok manusia ini.
Meski demikian aku lantas tidak serta merta mengandalkan tuhan (ku) untuk menjelaskan segala sesuatu yang tidak aku ketahui, karena dia memiliki mekanismenya sendiri untuk mengajar kita. Yang banyak terjadi adalah aku otodidak, mengandalkan kemampuan sendiri. Aku yang jadi mentor, aku juga yang dimentori dan kadang-kadang aku menjadi observer kegiatan mentoring ini. Tapi itu tidak berarti aku putus hubungan sama tuhan. Dia tetap menjadi pemandu sejati ku.
Diantara jutaan bahkan dalam bilangan yang tak terhitung ilmu serta pengetahuan yang tuhan ciptakan di muka bumi ini, saya yakin seyakin-yakinnya bahwa manusia mampu menggapai untuk memahaminya kecuali satu maha karya tuhan yang terindah yang saya pernah lihat, perempuan.
Beri aku jutaan atau milyaran teori, akan ku coba untuk memahaminya dalam rentangan detik, menit, bahkan abad bila usia berkenan. Tinggalkan aku dalam perpustakaan berlantai sepuluh, yang pada setiap lantainya terletak puluhan lemari, ratusan rak, ribuan buku serta ide-ide yang tak terhingga jumlahnya, niscaya akan menari partikel otak ku memikirkan serta menalar apa yang terbaca oleh ku.
Tapi bila engkau hadapkan aku pada seorang wanita dan katakan pada ku "pahamilah dia !" niscaya aku kan berkata: "terima kasih". Akan runtuh seluruh kekuatan logika berpikir ku dihadapan senyum tak bermakna seorang wanita. Aku boleh berbangga pada mu akan kekuatan imajinasi dan kreasi ku tapi itu tidak berlaku satu detik pun untuk wanita.
Tuhan, izinkan aku memahami ciptaan mu bernama wanita. Mungkin tidak dengan akal, tapi dengan hati.
Meski demikian aku lantas tidak serta merta mengandalkan tuhan (ku) untuk menjelaskan segala sesuatu yang tidak aku ketahui, karena dia memiliki mekanismenya sendiri untuk mengajar kita. Yang banyak terjadi adalah aku otodidak, mengandalkan kemampuan sendiri. Aku yang jadi mentor, aku juga yang dimentori dan kadang-kadang aku menjadi observer kegiatan mentoring ini. Tapi itu tidak berarti aku putus hubungan sama tuhan. Dia tetap menjadi pemandu sejati ku.
Diantara jutaan bahkan dalam bilangan yang tak terhitung ilmu serta pengetahuan yang tuhan ciptakan di muka bumi ini, saya yakin seyakin-yakinnya bahwa manusia mampu menggapai untuk memahaminya kecuali satu maha karya tuhan yang terindah yang saya pernah lihat, perempuan.
Beri aku jutaan atau milyaran teori, akan ku coba untuk memahaminya dalam rentangan detik, menit, bahkan abad bila usia berkenan. Tinggalkan aku dalam perpustakaan berlantai sepuluh, yang pada setiap lantainya terletak puluhan lemari, ratusan rak, ribuan buku serta ide-ide yang tak terhingga jumlahnya, niscaya akan menari partikel otak ku memikirkan serta menalar apa yang terbaca oleh ku.
Tapi bila engkau hadapkan aku pada seorang wanita dan katakan pada ku "pahamilah dia !" niscaya aku kan berkata: "terima kasih". Akan runtuh seluruh kekuatan logika berpikir ku dihadapan senyum tak bermakna seorang wanita. Aku boleh berbangga pada mu akan kekuatan imajinasi dan kreasi ku tapi itu tidak berlaku satu detik pun untuk wanita.
Tuhan, izinkan aku memahami ciptaan mu bernama wanita. Mungkin tidak dengan akal, tapi dengan hati.
Toward a more creative society
Welcome to our blog..
This blog aims to immortalizing the ideas and creativities that sometimes cross over our minds.
I believe a good idea is a useful one. Live your life with the original idea since that is the easy way to respect what god has given us. Our minds sharpen everytime it produce ideas and creativities.
In a word, life is the idea it self.
This blog aims to immortalizing the ideas and creativities that sometimes cross over our minds.
I believe a good idea is a useful one. Live your life with the original idea since that is the easy way to respect what god has given us. Our minds sharpen everytime it produce ideas and creativities.
In a word, life is the idea it self.
Langganan:
Postingan (Atom)
